A. Sejarah Perkembangan Studi Islam di Barat
Kontak Islam dengan Barat (Eropa) dapat dikelompokkan menjadi dua fase, yakni: (1) di masa kejayaan Islam (abad ke 8 M) kalau melihat Spanyol adalah abad 13 M, dan (2) di masa renaissance / runtuhnya muslim, dimana Barat yang berjaya (selama abad ke 16 M) sampai sekarang.
1. Para Pelajar Barat yang menuntut Ilmu
Kemajuan peradaban barat dimulai pada Periode Pertengahan (1250-1800 M), yang mana peradaban islam pada periode ini mengalami stagnasi. Sedangkan peradaban barat mengalami perkembangan yang sangat pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang ini. Sebenarnya perkembangan tersebut banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa Andalusia (Spanyol) pada massa pemerintahan Bani Abbasiyah adalah merupakan salah satu tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban islam baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antar negara. Salah satu contoh yang kami ambil adalah pemikiran Ibnu Rusyd yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir. Dari pemikiran Ibnu Rusyd inilah yang menarik minat orang-orang barat untuk belajar. Diantara pemuda Kristen Eropa yang belajar di Universitas-Universitas Islam di Andalusia, seperti Universitas Codova (pendirinya abd Al Rahman III), Seville , Malaga , Granada dan Salamanca . Selama mereka belajar di lembaga-lembaga tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya para ilmuan muslim. Pusat kegiatan terjemahan itu berada di Toledo . Setelah mereka kembali kenegara masing-masing, mereka mendirikan Sekolah-sekolah dan Universitas. Universitas yang pertama mereka dirikan di Eropa pada tahun 1231 Masehi.
Jadi, Berkembanganya Studi Islam di Dunia Barat adalah disebabkan para pelajar barat yang datang ke Jazirah Arabiyah untuk belajar. Disamping itu juga mereka telah berhasil menterjemahkan karya-karya ilmuan muslim kedalam bahasa latin. Gerakan ini pada akhirnya menimbulkan massa pencerahan dan revolusi industri, yang menyebabkan Eropa maju. Dengan demikian Andalusia merupakan sumber-sumber cahaya bagi Eropa, memberikan kepada benua itu manfaat dari ilmu dan budaya islam selama hampir tiga abad.
2. Terkenalnya Islam di Dunia Barat
Pada dasarnya kebudayaan-kebudayaan kuno dan modern digerakkan oleh komunikasi dan kontak melalui perjalanan, migrasi atau penaklukan. Mereka juga bergerak melalui lukisan, ukiran, monument, peninggalan, buku-buku dan karya seni. Hal ini sepenuhnya benar dalam hal kebudayaan islam, karena ia dikenal oleh melalui dua saluran utama yaitu :
a. Kontak Pribadi
Orang-orang Kristen di Timur mengadakan kontak dengan orang-orang islam setelah penaklukan Arab atas Persia , Syiria dan Mesir, hidup bersama mereka dan menikmati toleransi agama yang besar. Mereka juga mengikuti kegiatan intelektual dan kebudayaan kaum muslim dan memimpin gerakan keilmuan islam yang baru lahir. Terjadinya kontak antara Kristen Barat dan Kaum Muslimin telah berlangsung lebih dari satu abad (1096-1204 M). Dengan adanya kontak tersebut, maka terjadilah pertukaran kebudayaan di Andalusia dan Sisilia yang mencapai puncaknya di bawah raja Frederick II (1250 M), yang sangat menghargai ilmu-ilmu islam. Salah satu bukti yang nyata dari hal ini adalah adanya kumpulan surat-menyurat antara dia dengan Ibnu Sab’in.
b. Penerjemahan
Buku adalah sumber dari segala ilmu pengetahuan, kalau tidak ada buku niscaya manusia akan kurang memahami dan mengerti bahkan tidak mengetahui akan ilmu pengetahuan. Sebelum kita berkomunikasi dan bersosialisasi kepada orang lain, adakalanya kita harus mengerti dan memahami bahasa orang tersebut terlebih dahulu. Begitu juga dengan buku, orang barat ingin mempelajari ilmu pengetahuan islam, mereka terlebih dahulu mempelajari arti bahasa yang ada didalam kitab tersebut. Penerjemahan adalah alat terbaik untuk mengkaitkan kebudayaan-kebudayaan. Toledo dan Palermo adalah pusat-pusat penerjemahan yang besar pada abad ke-12 dan ke- 13 M, gerakan penerjemahan ini diberi dorongan oleh Alfonso yang bijak. Adapun orang-orang barat yang menerjemahkan sains islam adalah Herman, si pendeta dari Jerman (1272 M), yang terkemuka dari kelompok ini adalah Gerard dari Cremona (1187 M), orang Italia yang tertarik oleh pesona penerjemahan dan pergi ke Toledo. Disana ia khususnya terjun dalam penerjemahan karya-karya ilmiah, seperti ilmu pengobatan, kimia, astronomi dan matematika. Bersamanya juga ada Uskup Dominic Gondsalinos (1150 M), dan masih banyak lagi ilmuan-ilmuan barat yang aktif menerjemahkan kitab ilmuan muslim di Toledo dan Pelermo. Inilah fenomena orang barat dalam menuntut ilmu, mereka dengan giat, bersungguh-sungguh, dan optimis. Hasilnya studi islam menjadi berkembang didunianya hingga sekarang ini, sungguh sangat mengagumkan!
B. Signifikasi Studi Islam
Mengenai pengertian Studi Islam, dikalangan para ahli masih terdapat perdebatan tentang Studi Islam (agama) dimasukkan kedalam ilmu pengetahuan. Menurut Amin Abdullah; Islam kalau dilihat dari Normativitas kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena normativitas studi islam agaknya terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analisis, kritis, metodologis, histories, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah-naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu ditonjolkan. Sedangkan untuk Studi Islam dilihat dari Historisitas tampaknya tidaklah salah. Inilah islam kalau dilihat secara historisitas yakni islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin ilmu, yakni ilmu keislaman atau islam studies.
C. Islam Sebagai Sains di Dunia Barat
Pada dasarnya Studi Islam dan Sains Islam ada perbedaan dan persamaan. Persamaan studi dan sains adalah sama-sama objek kajiannya adalah ilmu pengetahuan agama. Sedangkan perbedaannya, Studi Islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran islam yang dipraktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sedangkan Sains Islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang mencakup berbagai pengetahuan modern seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika, dan sebagainya yang dibangun atas arahan nilai-nilai islami. Dan Sains Islam sebagaimana dikemukakan Hussein Nasr adalah sains yang dikembangkan oleh kaum muslimin sejak abad islam ke-2, yang keadaannya sudah tentu merupakan salah satu pencapaian besar dalam peradaban islam. Selama kurang lebih 700 tahun, sejak abad ke-2 hingga ke-9 Masehi, peradaban islam mungkin merupakan peradaban yang paling produktif dibandingkan peradaban manapun jua. Dari Sains Islam inilah membuat orang barat tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan islam yang sampai terkenal di Eropa. Al hasil, menurut Harun Nasution; salah satu contoh kemajuan orang barat adalah Napoleon melakukan Ekspedisi ke Mesir dengan memperkenalkan ilmu pengetahuan dengan membawa 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu. Diapun membawa dua set alat percetakan huruf Latin, Arab, dan Yunani. Ekspedisi itu datang bukan hanya untuk kepentingan militer, tetapi juga untuk kepentingan ilmiah. Untuk kepentingan ilmiah, Napoleon membentuk lembaga ilmiah yang disebut dengan Institut d ‘Egypte yang mempunyai empat bidang ilmu kajian, yaitu ilmu pasti, ilmu kalam, ilmu ekonomi dan politik, serta ilmu sastra dan seni.
Betapa gemilangnya kemajuan dunia barat dengan mempelajari dan mendalami studi dan sains islam. Hal ini terjadi pada akhir tahun 1801 Masehi, pada waktu inilah membuka mata umat islam bahwa mereka telah ketinggalan sangat jauh dalam ilmu pengetahuan, maka pada waktu ini dikenal dengan massa Islam Periode Modern.
D. Dampak yang ditimbulkan dari Perkembangan Studi Islam Bagi Dunia Barat.
Setelah Studi Islam Berkembangan begitu pesatnya di dunia barat, maka mulai tampaklah kelihatan dampak-dampak yang ditimbulkannya mulai dari hal yang positif maupun negatif.
1. Dampak Positif
Kehadiran islam di Eropa Spanyol membawa perubahan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, terutama dalam aspek peradaban dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari hal ini telah menimbulkan semangat orang barat dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang dibawah oleh islam. Al hasil, maka banyaklah orang barat yang menguasai ilmu pengetahuan dari islam, seperti ilmu kimia, ilmu hitung, ilmu tambang (minerologi), meteorology (karya Al Khazini), dan sebagainya. Sedangkan dibidang teknologi adalah orang barat bisa membuat berbagai macam alat industri yang dihasilkan dari observasi atau penelitian. Sekitar abad ke-16 M telah ditemukan sebuah alat perajut kaos kaki. Kemudian tahun 1733 M John Kay telah berhasil membuat alat tenun baru yang dapat bekerja lebih cepat dan menghasilkan tenunan yang baik. Pada tahun 1765 M Hargreaves berhasil membuat alat pintal yang dapat memintal berpuluh-puluh gulung benang sekaligus. Kemudian sekitar tahun 1780 M terjadi revolusi industri di Inggris, seperti ditemukannya mesin uap oleh James Watt pada tahun 1769 M dan alat tenun oleh Cartwright tahun 1785 M yang menyebabkan Inggris menjadi negara industri maju.
2. Dampak Negatif
Setelah bangsa barat menjadi bangsa yang maju dan telah mengalami revolusi dibidang industri. Maka mereka mendapati masalah kekurangan bahan baku dalam kegiatan industrinya. Kemudian untuk mencari jalan keluarnya mereka berlomba-lomba mencari di dunia Timur, yang kebanyakan dikuasai oleh pemerintahan muslim. Di samping itu, mereka juga memerlukan tempat pemasaran baru bagi hasil industrinya ke negara-negara Timur. Sebagai akibatnya, banyak negara-negara Barat datang kedunia Timur dan terjadilah Ekspansi besar-besaran dalam bidang social, politik, ekonomi dan sebagainya. Di waktu itulah terjadi suatu massa kolonial dan imperial, yaitu massa dimana bangsa-bangsa Barat melakukan penjajahan terhadap dunia Timur, khususnya dunia muslim. Suasana seperti itu menyebabkan dunia Timur mengalami kemunduran dan Barat mencapai kemajuan pesat dari hasil kolonialisme dan imperialisme atas dunia Timur.
E. Perkembangan Studi Islam di Negara-Negara Barat
Di antara berita gembira ini, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Tamim ad-Dari. Ia berkata : Aku mendengar Rosulullah S.a.w. bersabda :
لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الاَمْرِ مَابَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ, وَلاَيَتْرُكَ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَوَبَرٍ, اِلاَّ اَدْخَلَهُ اللهُ هَاذَا الدِّيْنَ, بِعِزِّ عَزِيْزٍ, اَوْبِذُلِّ ذَلِيْلٍ, عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الاِسْلاَمَ, وَذُلاَّ يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ.
” Islam akan mencapai wilayah yang dicapai siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah yang mewah maupun yang sederhana kecuali akan memasukkan agama ini kedalamnya. Dengan memuliakan orang yang mulia atau dengan menghinakan orang yang hina. Mulia karena dimuliakan Allah disebabkan keislamannya dan hina karena dihinakan Allah disebabkan kekafirannya “. (HR. Ahmad)
Makna sampainya islam ke daerah yang disentuh siang dan malam, yaitu tersebarnya islam keseluruh permukaan bumi, sebagaimana siang dan malam menutupinya, dan masuknya agama ini ke daerah perkotaan maupun pedesaan.
Dalam perkembangan studi islam di Negara-Negara Barat, dalam bagian tertentu dapat dibedakan sebagai berikut :
1) Studi Islam mensyaratkan kajian intensif tentang bahasa Arab sebagai bahasa. Diantara pemula pakar bahasa Arab dari Jerman adalah Johann Jokab Reiske (1716-1774). Kajian-kajian bahasa Arab berkembang secara luas di Eropa sejak permulaan abad ke-19. salah satu dari ahli-ahli dalam bidang ini adalah seorang sarjana Perancis A.I. sylvestre de Sacy (1758-1838);
2) Studi teks hanya dapat dilakukan berdasarkan pada pengetahuan yang solid tentang bahasa Arab dan bahasa islam yang lain, seperti bahasa Persia, Turki, Urdu dan melayu-termasuk di dalamnya kritik teks dan sejarah kesustraan. Dengan demikian edisi-edisi dari teks-teks tersebut dianggap sebagai pra-syarat dalam kajian-kajian tekstual;
3) Keahlian dalam kajian teks, pada gilirannya, merupakan pra-syarat dalam kajian sejarah. Termasuk didalamnya berbagai kajian terhadap para sejarawan muslim.
Sebagian besar Studi Islam saat ini di Negara-negara Barat lebih bisa dipahami dengan latar belakang perkembangan histories. Sejarah Studi Islam merupakan sebuah kajian tersendiri; dalam kesempatan ini barangkali cukup untuk mengacu pada sebuah monograf yang berkaitan dengan persoalan tersebut, serta sebuah kajian yang memfokuskan pada lima islamolog terkemuka pada 100 tahun pertama studi islam.
Adapun perkembangan Studi Islam di Negara-negara Barat, seperti Jerman, Perancis, Inggris, Belanda, dan Amerika sungguh sangat mengesankan. Masing-masing Negara telah banyak melahirkan cendekiawan muslim yang progresif. Diantara cendekiawan-cendekiawan itu adalah saya bagi beberapa bidang kajian ilmu pengetahuan, yaitu :
1. Kajian-kajian Bahasa Arab
a. Heinrich Leberecht Fleischer (1801-1888), murid dari ilmuwan Perancis A.I. Sylvestre de Sacy, pendiri Filologi Arab di Jerman.
b. George Wilhelm Freytag (1788-1861). Penyusun kamus terkenal Lexicon Arabico-Latinum (1830-1837).
c. Albert Socin (1844-1899), penyusunan system kartu yang terperinci untuk kamus lengkap Jerman-Arab. System kartu tersebut merupakan salah satu sumber Kamus Bahasa Arab Klasik ke dalam Bahasa Inggris dan Jerman yang sekarang merupakan bagian dari publikasi (Worterbuch der klassischen Arabischen Sprache).
2. Kajian- Kajian Teks
a. Gustav Flugel (1802-1870), penyusun teks tambahan dan indeks Al-Qur’an (1834), juga editor dari kitab Al-Fihrist karya Ibnu Al-Nadim.
b. Josef von Hammer-Purgstall (Austrian, 1774-1856), terkenal karena kajiannya dalam sastra Arab , Persia dan Turki.
c. Josef Horovits (1874-1931), penulis kajian-kajian Al-Qur’an dan Nabi Muhammad, yang memprakarsai system kartu pada puisi Arab Kuno yang sekarang ada di Universitas Yahudi di Jerussalem. Dia berkolaborasi dengan para sarjana Jerman lain dalam edisi Thabaqat milik Ibnu Sa’d.
d. Theodor Noldeke (1836-1930), terkenal karena karya sejarahnya tentang Al-Qur’an (1960). Sebuah edisi baru terbit dalam 3 volume (1909, 1919 dan 1938) dengan berbagai revisi yang dibuat oleh Friedrich Schwally (1863-1919), Gotthelf Bergstrasser (1886-1933) dan Otto Pretzi (1893-1941). Bergstrasser memulai proyek untuk edisi apparatus criticus terhadap teks Al-Qur’an.
e. Ferdinand Wuestenfeld (1808-1899), editor Sirah Al-Nabi karya Ibnu Hisyam (1858-1860) dan Wafayat al-A’yan milik Ibnu Khallikan.
3. Kajian - Kajian Historis
a. F. Alfred von Kremer (Austrian, 1828-1889), yang karya-karyanya termasuk : Kajian-kajian Ibn Khaldun (1859 dan 1879), sejarah ide-ide dominan Islam (1868), dan sejarah budaya Timur dibawah para Khalifah (2 vol., 1875-1877).
b. F. Adam Mez (Swiss, 1869-1917) ilmuwan partikelir di Basel , penulis terkenal kajian Renaissance Islam pada abad ke-10.
4. Berbagai Kajian Agama Islam
a. Ignas Goldziher (Hungarian, 1850-1921) menulis kajian-kajian yang luas di Jerman dalam berbagai materi tentang budaya dan agama islam, misalnya The Zahirites (1884).
b. Muslim Studies, termasuk kajian terkenal tentang literature Hadith, dan ada lagi selain itu, seperti Lectures on Islam (1910) dan The Tendencies of Islam al-qur’an Interpretation (1920).
c. Richard Gramlich (Swiss, Basel ), mengkaji tentang mistik Islam dan pemikiran Syi’ah.
5. Berbagai Kajian Hukum Islam
Dalam mengkaji hukum islam, para ilmuwan barat telah berhasil mempelajarinya, sehingga mereka bisa membukukannya dalam sebuah kitab karangan mereka masing-masing. Mereka adalah :
a. F. Gotthelf Bergstrasser (1886-1933), ahli spesialis hukum islam;
b. F. Edward Sachau (1845-1930) ilmuwan ini juga terkenal karena membawa cahaya beberapa karya Al-Biruni; dan
c. F. Joseph Schacht (1902-1969) berimigrasi ke Mesir, Inggris, Belanda dan Amerika. Terkenal atas berbagai kajiannya tentang hukum islam, asal-usul juriprudensi Muslim dan sumber berbagai materi Hadits dalam teks-teks resmi.
Demikian sejarah singkat perkembangan studi islam di dunia barat, yang mana orang barat telah membuktikan keunggulan ilmu pengetahuannya atas orang muslim, hingga saat ini kita masih ketinggalan dari orang barat.
F. Fase Kejayaan Muslim
Seperti terungkap ketika membahas sejarah perkembangan studi Islam di dunia Muslim, bahwa kontak pertama antara dunia Barat dengan dunia muslim adalah lewat kontak perguruan tinggi. Bahwa sejumlah ilmuan dan tokoh-tokoh barat datang di perguruan tinggi muslim untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dunia Islam belahan timur, perguruan tinggi tersebut berkedudukan di Baghdad dan di Kairo, sementara di belahan barat ada di Cordova.
Bentuk lain dari kontak dunia muslim dengan dunia barat pada fase pertama adalah penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak abad ke-13 M hingga bangkitnya zaman kebangunan (renaissance) di Eropa pada abad ke-14.
Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran empirisme yang dikumandangkan oleh Francis Bacon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya observasi dan eksperimen.
Berkat penyalinan karya-karya ilmiah dari manuskrip-manuskrip Arab itu, terbukalah jalan bagi perkembangan cabang-cabang ilmiah tersebut di Barat. Apalagi sesudah aliran empirisme yang dikumandangkan oleh Francis Bacon menguasai alam pikiran di Barat dan berkembangnya observasi dan eksperimen.
Setelah ilmu-ilmu yang dahulunya dikembangkan muslim masuk ke Eropa dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat, dirasakan banyak tidak sejalan dengan Islam. Misalkan dirasakan dirasuki oleh paham sekuler dan sejenisnya. Karena itu, beberapa ilmuan melakukan usaha pembersihan.
G. Fase Renaissance / Runtuhnya Muslim
Uraian berikut adalah gambaran kontak muslim dengan dunia barat pada periode kedua yang berlangsung selama abad renaissance. Selama abad renaissance Eropa menguasai dunia ntuk mencari mata dagangan, komersial, dan penyebaran agama.
Kedatangan muslim fase kedua ke dunia barat, khususnya eropa barat dilator belakangi oleh dua alasan pokok, yakni: (1) alasan politik dan (2) alasan ekonomi. Alasan politik adalah kesepakatan kedua negara, yang satu sebagai bekas penjajah, sementara yang satunya sebagai bekas jajahan. Misalnya Perancis mempunyai kesepakatan dengan negara bekas jajahannya, bahwa penduduk bekas jajahannya boleh masuk ke Perancis tanpa pembatasan. Maka berdatanglah muslim dari Afrika Barat dan Afrika Utara, khuusnya dari Algeria ke Perancis. Adapun alasan ekonomi adalah untuk mencukupi tenaga buruh yang dibutuhkan negara-negara Eropa Barat. Untuk menutupi kebutuhan itu Belgia, Jerman, Belanda merekrut buruh dari Turki, Maroko, dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, sementara Inggris mendatangkan dari negara-negara bekas jajahannya. Adapun kategori Muslim yang ada di Eropa Barat ada dua, yakni pendatang (migran) dan penduduk asli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar